Pemberdayaan28 September 2026

Perkuat Resapan Air Bromo: YEKA dan PT Tirta Investama Keboncandi Latih Petani Desa Pancur Teknik Agroforestri dan Konservasi Rorak

Oleh: Admin YEKA

Foto Bersama 2
Pemateri Cdk Lumajang Menjelaskan Wilayah Kerja
Pemateri Menjelaskan Konsep Agroforestri
Pemateri Menjelaskan Pola Tanam

Foto: Foto Bersama 2

PASURUAN — Dalam upaya meningkatkan tutupan vegetasi dan menahan erosi di kawasan resapan air Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Keboncandi, Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA) bersama PT Tirta Investama - Plant Keboncandi menggelar Pelatihan Teknik Agroforestri dan Konservasi Tanah-Air di Desa Pancur, Kamis (10/09/2026). Kegiatan ini menjadi fondasi teknis menuju penanaman 2.000 bibit tanaman kayu dan buah-buahan terverifikasi digital guna mengamankan ketersediaan air baku di lereng Bromo.

Pelatihan partisipatif yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB di Balai Desa dan area lahan warga Pancur ini menyatukan pemangku kepentingan lintas sektor, meliputi Pemerintah Desa Pancur, pengurus KMPS Pancur, perwakilan Perhutani KPH Pasuruan, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, serta puluhan petani penerima manfaat. Dalam pelatihan tersebut, para pakar dari Perhutani dan Dinas Kehutanan mentransfer ilmu praktis mengenai penataan pola dan jarak tanam, persiapan lubang tanam terstandar, teknik pemeliharaan, hingga strategi penyulaman bibit pengganti untuk menjamin tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tanaman.

Selain transfer teknologi budidaya vegetasi, materi vital yang disimulasikan secara intensif adalah teknik pembuatan rorak—cekungan atau parit buntu penampung air hujan dan endapan lumpur (sedimen). Kombinasi antara tajuk tanaman agroforestri dan struktur rorak diproyeksikan mampu menekan laju limpasan permukaan (surface runoff), memaksimalkan infiltrasi air hujan ke dalam akuifer tanah, sekaligus mencegah erosi tanah di area bernilai kritis tersebut.

Melalui integrasi peran yang disepakati, KMPS Desa Pancur dan petani lokal berkomitmen mengawal proses penanaman, pemeliharaan rutin, hingga pemantauan berkala di lapangan. Sinergi ini memastikan bahwa konservasi tidak hanya berorientasi pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada keberlanjutan fungsi hidrologis dan dampak ekonomi jangka panjang bagi warga.

"Keberhasilan konservasi air di lereng Bromo bersumber dari penguasaan teknis di tingkat tapak. Melalui pelatihan terpadu bersama Perhutani dan Dinas Kehutanan ini, kita membekali petani Pancur agar mampu memadukan pola agroforestri dan teknologi rorak secara mandiri, sehingga setiap mili air hujan yang jatuh dapat teresap sempurna ke dalam tanah," ujar Tim Fasilitator Lapangan Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA).