GRESIK — Menegaskan identitas kawasan sebagai destinasi ekowisata unggulan, pemasangan dua unit tugu landmark "Selamat Datang" rampung dilaksanakan di Desa Pangkah Kulon pada pekan keempat Agustus 2026. Berlokasi di akses masuk Cafe Apung Wisata Cisiu dan dermaga utama Zona Konservasi Mangrove Pulau Lewehan, revitalisasi infrastruktur penanda ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan Program Keanekaragaman Hayati CSR PT Smelting yang difasilitasi oleh Yayasan Elang Katulistiwa (YEKA).
Inisiatif peremajaan ini didorong oleh kondisi fisik papan sambutan lama yang telah mengalami pelapukan dan kerusakan struktural akibat paparan cuaca pesisir. Mengingat Pulau Lewehan kian aktif menerima kunjungan studi dari rombongan mahasiswa, serta kawasan Cisiu yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti greenhouse dan tracking mangrove, penyediaan tugu berbahan kayu dengan modifikasi huruf timbul (custom) menjadi esensial. Pemasangan tahap akhir dieksekusi secara bergelombang oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas); di mana tugu Cafe Apung dipasang pada 14-15 Agustus, disusul pemasangan di Pulau Lewehan pada 24 Agustus, dan penyelesaian emblem logo akrilik perusahaan pada 26-27 Agustus 2026.
Fase pengerjaan memperlihatkan sinergi lintas pihak yang kuat. Dimulai sejak Juni dengan survei penetapan tata letak strategis, proses berlanjut pada bulan Juli untuk kurasi material, pemesanan komponen huruf secara daring, dan pengerjaan lengkung kayu oleh tenaga pertukangan lokal. Untuk menjamin keawetan dan efisiensi di lapangan, proses perakitan awal dan pengecatan manual dilakukan secara swadaya oleh anggota Pokmaswas di area permukiman, sebelum akhirnya diangkut menggunakan perahu menuju titik elevasi di atas kawasan perairan dan lumpur mangrove.
"Kehadiran tugu ini bukan sekadar penunjuk arah atau aksesori visual, melainkan representasi dari keseriusan komunitas Pangkah Kulon dalam menyambut tamu dan merawat kawasan konservasinya. Dinamika di lapangan, seperti penyesuaian jadwal pengecatan dengan rutinitas harian warga hingga kehati-hatian dalam menentukan koordinat tugu, justru membuktikan bahwa warga lokal sangat berdaulat atas tata ruang desanya sendiri," ungkap perwakilan tim fasilitator YEKA yang memimpin jalannya pendampingan lapangan.
Dengan berdirinya kedua landmark ikonik tersebut, daya tarik estetika kawasan wisata pesisir Gresik ini dipastikan meningkat secara signifikan. Sebagai langkah tindak lanjut, tim pendamping telah mengoordinasikan sistem pemeliharaan berkala bersama pengelola kawasan setempat untuk memastikan infrastruktur kayu dan emblem akrilik tetap kokoh bertahan menghadapi kondisi lingkungan pesisir.