PASURUAN — Dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan konservasi, Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA) mendampingi Kelompok Masyarakat Pengelola Sumber Daya Air (KMPS) Desa Pancur dalam rangkaian Pelatihan Fasilitasi Usaha berbasis studi banding pada Kamis, 17 September 2026. Kegiatan yang didukung oleh program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Tirta Investama – Plant Keboncandi ini dirancang untuk mengakselerasi rencana integrasi bisnis pakan pelet KMPS dengan unit usaha ayam petelur yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pancur.
Studi lapangan lintas kawasan ini menyasar dua pusat pembelajaran peternakan unggulan di Kabupaten Pasuruan, yakni Desa Kedawung dan Desa Kejayan. Rombongan yang terdiri dari 15 peserta perwakilan KMPS Pancur dan fasilitator lapangan YEKA memulai sesi pembelajaran teknis di Desa Kedawung untuk mendalami formulasi pakan ternak, penggunaan konsentrat, manajemen vaksinasi, hingga kontrol biosekuriti kandang. Sesi siang dilanjutkan ke Desa Kejayan yang berfokus pada strategi komersialisasi, pengembangan branding produk telur, serta pemetaan saluran distribusi pasar lokal.
Asesmen awal di lapangan menyoroti perlunya intervensi teknis pada unit usaha ayam petelur BUMDes Pancur. Saat ini, dari populasi 500 ekor ayam, produksi telur harian baru mencapai rata-rata 14 kilogram per hari—sebuah indikator yang menunjukkan belum optimalnya performa penyerapan nutrisi pakan serta manajemen pemeliharaan. Melalui intervensi produksi mesin pakan pelet yang akan dikelola oleh KMPS Pancur, formulasi nutrisi yang presisi dan efisiensi biaya pakan diharapkan dapat meningkatkan rasio produktivitas ternak secara signifikan.
Langkah konkret pasca-studi banding ini mencakup penyusunan analisis kebutuhan bahan baku pelet harian, pemisahan pencatatan biaya operasional, serta pengembangan identitas merek (branding) bagi produk telur BUMDes Pancur. Integrasi rantai pasok lokal antara pakan pelet karya KMPS dan peternakan BUMDes diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi sirkular desa yang berkelanjutan.
"Usaha konservasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus berjalan secara harmonis. Dengan menyelaraskan produksi pakan pelet KMPS dan manajemen peternakan BUMDes Pancur, kita tidak hanya memperbaiki produktivitas ternak dari 14 kilogram per hari, tetapi juga membangun ekosistem bisnis desa yang mandiri, terukur, dan berdampak langsung pada kesejahteraan warga," ujar Tim Pendamping Lapangan Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA).