Pemberdayaan28 September 2026

Meredam Kritis Air Lereng Bromo: Audit Lapangan YEKA dan PT Tirta Investama Tetapkan Desa Pancur Fokus Prioritas Konservasi 2026

Oleh: Admin YEKA

Diskusi Bersama Perangkat Desa  (1)
Diskusi Bersama Perangkat Desa  (3)
Diskusi Bersama Perangkat Desa
Survey Lahan Kritis  (1)
Survey Lahan Kritis

Foto: Diskusi Bersama Perangkat Desa (1)

PASURUAN — Komitmen menjaga keterjaminan air baku di kawasan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) lereng Bromo terus diperkuat. Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA) bersama PT Tirta Investama - Plant Keboncandi meluntaskan asesmen teknis dan pemetaan sosial di lima desa resapan (recharge area) seluas ±800 hektar yang mencakup Desa Lumbang, Pancur, Bulukandang, Kronto, dan Wonorejo. Langkah strategis ini menjadi landasan penetapan peta jalan konservasi terpadu tahun 2026 guna meredam potensi krisis air baku dan kerusakan ekosistem hidro-orologis.

Rangkaian asesmen lapangan yang berlangsung sepanjang Juli 2026 mengungkapkan kontras kondisi ekologis di kawasan tangkapan air tersebut. Desa Pancur teridentifikasi sebagai titik paling kritis akibat indikasi penurunan debit air yang signifikan, dipicu oleh minimnya pemeliharaan vegetasi serta tingginya tekanan ekstraksi air tanpa izin. Sebaliknya, Desa Lumbang menunjukkan tren pemulihan debit air yang positif berkat keberlanjutan program konservasi intervensi vegetasi yang telah diinisiasi sebelumnya. Secara keseluruhan, kawasan Sub DAS Keboncandi menghadapi ancaman kebocoran air hingga ±300 liter per detik yang bersumber dari keberadaan sekitar 600 sumur bor ilegal serta 150 hektar lahan yang minim tutupan vegetasi.

Proses verifikasi lapangan tidak sekadar berfokus pada data biofisik, melainkan juga pengumpulan data partisipatif bersama calon petani penerima manfaat dan pemerintah desa setempat. Meski tim fasilitator YEKA berhadapan dengan keterbatasan akses medan terjal di kawasan lereng serta kelengkapan dokumen administrasi warga, pendataan komoditas dan luasan lahan berhasil dirampungkan untuk memastikan sasaran intervensi tepat guna.

Dalam perancangan intervensi 2026, intervensi fisik dan vegetasi akan dipusatkan pada penguatan resapan air terukur. Target utama program meliputi pemeliharaan 10 hektar lahan Penyerapan Jasa Lingkungan (PJL) dengan kerapatan 400 pohon dan 100 rorak per hektar yang diproyeksikan menyerap 185 juta liter air per tahun, pembangunan 1.000 unit rorak terstandar (1x0,7x0,7 meter) berkapasitas resapan 170 juta liter per tahun, serta penanaman 2.000 pohon agroforestry berbasis sistem pemantauan digital (geotagging dan barcode). Di samping itu, otomatisasi pemantauan muka air tanah akan diterapkan melalui instalasi sumur bervalve yang terintegrasi dengan pompa auto valve.

"Pendekatan konservasi tidak boleh berhenti pada penanaman fisik semata. Melalui penguatan kapasitas dua Kelompok Masyarakat (KMPS), pemberian fasilitasi usaha berupa mesin pelet pakan ayam petelur, hingga pemasangan water meter pada sarana resapan, kita sedang membangun kemandirian ekologi dan ekonomi warga secara bersamaan," tegas Direktur Komunikasi Yayasan Elang Katulistiwa Adipavitra (YEKA).