Event25 Mei 2026

Aktivasi Ekowisata Pulau Cisiu: Konsolidasi Tiga Kelompok Desa Pangkahkulon Pacu Pembukaan Berkala Cafe Apung

Oleh: Admin YEKA

6. Event Cafe Apung
10. Event Cafe Apung
11. Event Cafe Apung
14. Event Cafe Apung

Foto: 6. Event Cafe Apung

GRESIK – Tiga elemen lembaga swadaya tingkat tapak di Desa Pangkahkulon berhasil mengonsolidasikan manajemen niaga kawasan pesisir melalui penyelenggaraan event aktivasi perdana Destinasi Ekowisata Pulau Cisiu dan Cafe Apung pada akhir Maret 2026. Langkah operasional yang difasilitator secara intensif di lapangan tersebut bertujuan untuk memutus tren kunjungan wisatawan yang semula bersifat sporadis, mengunci kesepakatan pembukaan destinasi secara berkala satu bulan sekali, serta menguji instrumen pembagian fungsi bisnis berbasis komunitas. Program integrasi ekonomi sirkular ini berjalan di bawah payung komitmen investasi sosial Corporate Social Responsibility (CSR) PT Smelting dalam mendukung perluasan kemanfaatan Taman Kehati (Keanekaragaman Hayati) di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.

Peta jalan pelaksanaan event simulasi niaga ini diawali dengan koordinasi penentuan draf tata kelola komersial pada 25 Maret 2026, yang dilanjutkan dengan fase persiapan logistik dan bahan baku kuliner selama tiga hari berturut-turut pada 25–28 Maret 2026. Memasuki hari pelaksanaan pada 29 Maret 2026, kawasan wisata terpadu Pulau Cisiu resmi dibuka dengan mengaktifkan seluruh unit usaha kelompok. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pangkahkulon mengambil peran di garda depan dengan mengoperasikan pos retribusi masuk dan menerapkan tarif tiket senilai Rp2.000 khusus bagi kategori pengunjung dewasa. Sementara itu, Kelompok Usaha Bersama (KUB) menguasai operasional gazebo utama Cafe Apung dengan menyediakan menu dagangan kuliner lokal, bersanding dengan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang mengelola unit warung pendukung serta armada perahu wisata untuk layanan susur sungai edukatif.

Berdasarkan pencatatan data pada pos retribusi, jalannya event satu hari penuh tersebut berhasil menjaring total akumulasi kunjungan sebanyak 72 wisatawan lokal domestik yang terdiri dari segmen dewasa dan anak-anak, di mana dinamika kunjungan secara riil didominasi oleh kelompok usia anak-anak. Beroperasinya unit perahu susur sungai terbukti mampu menarik minat pelancong untuk menjelajahi perimeter luar hutan mangrove. Kendati demikian, evaluasi pasca-kegiatan mengidentifikasi adanya kendala finansial berupa realisasi pendapatan kelompok yang berada di bawah target estimasi awal. Rendahnya densitas pengunjung dewasa berdampak langsung pada minimnya daya beli di sektor kuliner, sehingga mengakibatkan KUB dan Pokmaswas mengalami defisit margin operasional atas modal awal yang telah dialokasikan untuk penyediaan komoditas dagangan segar.

Merespons dinamika defisit pasar pada intervensi perdana tersebut, jajaran kelembagaan desa bersama pendamping lapangan segera merumuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) strategis guna mengamankan keberlanjutan unit usaha pada siklus pembukaan bulan berikutnya. Kesepakatan ditekankan pada percepatan program promosi digital terpadu melalui optimalisasi akun media sosial resmi pariwisata desa, serta perluasan jaringan pasar institusional dengan menyasar institusi pendidikan lintas jenjang melalui penawaran paket kegiatan kemah konservasi (Mangrove Camp) terintegrasi di Pulau Cisiu.

Ketua Pokdarwis Desa Pangkahkulon mengemukakan bahwa data riil hasil uji coba operasional ini memberikan potret nyata mengenai peta kebutuhan promosi kawasan yang harus segera dibenahi oleh komunitas. "Meskipun dari segi pendapatan perdana KUB dan Pokmaswas masih mengalami kendala defisit modal akibat jumlah pengunjung yang belum stabil, kami menilai esensi utama event ini telah berhasil dicapai, yaitu pembuktian bahwa sistem loket, dapur cafe, dan perahu wisata bisa berjalan kompak dalam satu waktu. Kami akan segera mengejar ketertinggalan target pasar lewat penguatan konten promosi di media sosial dan mulai menawarkan paket wisata edukasi ke sekolah-sekolah binaan agar kuantitas pengunjung dewasa meningkat pada bulan depan," urainya saat memimpin sesi evaluasi di Cafe Apung.

Apresiasi terhadap ketahanan operasional kelompok lokal di tingkat tapak turut disampaikan oleh perwakilan Manajemen CSR PT Smelting, yang menggarisbawahi pentingnya fase evaluasi bisnis dalam siklus awal program pemberdayaan ekonomi sirkular. "PT Smelting memandang dinamika untung-rugi pada peluncuran perdana merupakan bagian dari proses pembelajaran komunitas menuju kemandirian usaha yang matang. Hal terpenting adalah komitmen Pokdarwis, KUB, dan Pokmaswas untuk tidak mundur, melainkan langsung melahirkan solusi konkret seperti rencana perluasan jaringan lewat Mangrove Camp sekolah. Kami memastikan instrumen CSR perusahaan akan terus mengawal tata kelola niaga ini agar infrastruktur fisik yang telah kami bangun dapat bertransformasi menjadi sumber penghidupan baru yang akuntabel dan berkelanjutan bagi masyarakat Pangkahkulon," tegasnya menutup dokumen evaluasi triwulan program.