Edukasi25 Mei 2026

Sinergi Edukasi Pesisir: Sinkronisasi Kurikulum PLH Mangrove dan Pemantapan Sarana Komposter di Tiga Sekolah Binaan

Oleh: Admin YEKA

1. Pendampingan Rutin Sekolah Binaan
2. Pendampingan Rutin Sekolah Binaan
3. Pendampingan Rutin Sekolah Binaan
5. Pendampingan Rutin Sekolah Binaan

Foto: 1. Pendampingan Rutin Sekolah Binaan

GRESIK – Jajaran institusi pendidikan bersama tim fasilitator lapangan sukses memantapkan rencana aksi pelestarian pesisir melalui pelaksanaan agenda Pendampingan Rutin Sekolah Binaan Pertama pada pertengahan Februari 2026. Kegiatan pemantauan dan penyelarasan kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) berbasis ekosistem pesisir tersebut menyasar tiga sekolah mitra strategis di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, yakni UPT SDN 306 Gresik, UPT SMPN 13 Gresik, dan SMK Mambaul Ihsan. Langkah integrasi ini dirancang guna memperkuat kesadaran ekologis generasi muda sekaligus mengamankan keberlanjutan Program Keanekaragaman Hayati dan Pengembangan Desa Wisata yang didanai oleh Corporate Social Responsibility (CSR) PT Smelting.

Pelaksanaan pendampingan operasional ini diselenggarakan secara simultan pada 12 Februari 2026 dengan menerapkan metode kunjungan langsung dari pintu ke pintu (door-to-door method) di masing-masing sekretariat sekolah binaan. Pendekatan personal tersebut sengaja dipilih guna melakukan verifikasi dan monitoring perkembangan program secara waktu nyata (real-time), serta menyerap dinamika kebutuhan fasilitas penunjang pembelajaran lingkungan hidup di tingkat tapak akademis. Fokus utama koordinasi bertumpu pada perumusan teknis pelaksanaan Pelatihan Pemilahan Sampah bagi siswa sebagai instrumen mitigasi dampak sampah plastik yang kerap menghambat laju kelulushidupan bibit mangrove di zona intertidal, serta finalisasi skema distribusi bantuan sarana fisik penunjang sanitasi lingkungan sekolah.

Berdasarkan hasil notulensi resmi yang disepakati oleh ketiga otoritas lembaga pendidikan tersebut, diperoleh draf konsensus yang menetapkan bahwa pelaksanaan pelatihan praktis pemilahan sampah domestik bagi para siswa akan digulirkan secara terpadu setelah momentum hari raya keagamaan mendatang. Selain menyepakati aspek teknis pelatihan, forum koordinasi juga melakukan penyesuaian fungsional terkait alokasi bantuan sarana fisik lingkungan untuk SMK Mambaul Ihsan. Melalui proses diskusi dan analisis kebutuhan lahan sekolah, disepakati bahwa bantuan fisik yang semula direncanakan berupa pembuatan sumur resapan dialihkan menjadi pengadaan unit sistem pengolahan limbah organik (composter) yang dinilai lebih aplikatif dan berdampak langsung bagi kebersihan domestik sekolah.

Di samping pemenuhan target kurikulum internal di dalam area sekolah, ketiga mitra lembaga pendidikan juga melayangkan usulan program pengayaan materi luar kelas (outdoor laboratory) berupa agenda kunjungan edukasi lapangan bagi perwakilan siswa dan guru pengampu. Destinasi yang diproyeksikan dalam usulan tersebut mencakup penjelajahan ekosistem hutan pantai di Pulau Lewehan serta kunjungan studi ke fasilitas pusat konservasi keanekaragaman hayati milik PT Smelting.

Kepala SMK Mambaul Ihsan Ujungpangkah menyatakan bahwa kunjungan berkala dari tim fasilitator ini memberikan ruang adaptasi yang sangat baik bagi kebutuhan riil di lingkungan sekolah. "Kami sangat menyambut baik dialihkannya bantuan sumur resapan menjadi unit komposter organik. Fasilitas komposter ini jauh lebih mendesak bagi kami dalam mengolah sisa limbah domestik harian sekolah sekaligus mempraktikkan langsung teori pengolahan pupuk organik yang ada di mata pelajaran PLH. Kami juga berharap usulan kunjungan lapangan ke Pulau Lewehan dan laboratorium PT Smelting segera terealisasi agar para siswa dapat menyaksikan langsung kaitan antara pemilahan sampah di sekolah dengan keselamatan ekosistem bakau di laut," jelasnya di sela-sela penandatanganan berkas koordinasi.

Sejalan dengan komitmen institusi pendidikan tersebut, perwakilan Manajemen CSR PT Smelting menegaskan bahwa pelibatan sektor akademis lintas generasi merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pemenuhan parameter kriteria kemitraan lingkungan dalam audit ESG korporasi. "PT Smelting menempatkan investasi pendidikan lingkungan sebagai pilar mendasar yang menjamin keberlanjutan restorasi fisik yang kami lakukan di pesisir Pangkahkulon. Dengan membekali para siswa pengetahuan taktis mengenai bahaya sampah plastik bagi pertumbuhan akar mangrove, kita sedang membangun benteng pertahanan lingkungan dari hulu. Kami berkomitmen untuk mendukung penuh pelaksanaan pelatihan pasca-Ramadhan serta memfasilitasi rencana kunjungan edukasi lapangan sebagai bentuk penguatan kapasitas literasi hijau komunitas secara berkelanjutan," pungkasnya secara tertulis dalam lembar evaluasi berkala program.