Pemberdayaan7 September 2026

Tiga Desa Binaan di Gresik Tuntaskan Verifikasi Online ProKlim Utama 2026, Tegaskan Ketahanan Iklim Berbasis Tapak

Oleh: Admin YEKA

Verol Dusun Masagan Tengah (2)
Verol Ketanen 2
Verol Sukomulyo 1
Verol Sukomulyo 2
Whats App Image 2026 08 25 at 16.12.25 (1)

Foto: Verol Dusun Masagan Tengah (2)

GRESIK — Tiga wilayah binaan strategis di Kabupaten Gresik—RW 01 Desa Ketanen (Kecamatan Panceng), RW 08 Desa Sukomulyo (Kecamatan Bungah), dan RW 05 Desa Kedanyang (Kecamatan Kebomas)—secara resmi merampungkan tahapan Verifikasi Online Program Komunitas Iklim (ProKlim) Kategori Utama Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada 3–4 Agustus 2026. Penilaian daring ini menjadi momentum penting untuk mengonfirmasi keselarasan dokumen usulan dengan aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak, yang difasilitasi melalui kolaborasi erat antara program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Smelting dan Yayasan Elang Khatulistiwa bersama pemerintah desa serta kelompok masyarakat setempat.

Pelaksanaan verifikasi yang memanfaatkan teknologi konferensi video dan siaran langsung kamera lapangan ini menyuguhkan dinamika serta fleksibilitas tinggi di setiap titik lokasi. Di RW 01 Desa Ketanen, tim verifikator langsung mengarahkan peninjauan visual ke unit bank sampah, pengelolaan lingkungan, sentra UMKM ramah lingkungan, hingga pos kesehatan masyarakat bersama Pokmas Guyup Rukun. Sementara itu, rangkaian verifikasi di RW 08 Desa Sukomulyo dan RW 05 Desa Kedanyang diawali dengan pemutaran video profil dan pemaparan kelembagaan oleh Pokmas Proklamasi serta Pokmas Pelita, yang dilanjutkan dengan inspeksi mendalam terhadap instalasi sumur tadah hujan, kolam ikan, ketahanan pangan, hingga upaya pelestarian tanaman lokal.

Meski sempat menghadapi penyesuaian alur pemeriksaan mendadak dari pusat serta kendala teknis audio, solidnya koordinasi lintas sektor memastikan seluruh rangkaian penilaian berjalan tertib dan tuntas. Berbagai catatan strategis dari tim verifikator—mulai dari penyusunan narasi runtut waktu (time series) kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD), kelengkapan dokumentasi kelembagaan dengan tingkat kehadiran minimal 60 persen, hingga bukti jejaring kemitraan—langsung direspon dan diselesaikan melalui pelengkapan dokumen di posko utama.

"Kesiapan mental narasumber, validitas data riil, dan fleksibilitas adaptasi di lapangan membuktikan bahwa aksi iklim warga telah mengakar kuat sebagai bentuk ketahanan ekologis yang berkelanjutan," ujar perwakilan tim pendamping dalam evaluasi pasca-kegiatan.

Sinergi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah desa, PT Smelting, dan Yayasan Elang Khatulistiwa ini diyakini mampu memperkokoh ketahanan wilayah dalam menghadapi ancaman krisis iklim global secara mandiri.