GRESIK – Jajaran fasilitator lapangan sukses merampungkan seluruh tahapan pembangunan fisik infrastruktur penunjang berupa gazebo komunal berukuran makro di kawasan ekowisata Pulau Cisiu, Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Penyelesaian fasilitas perlindungan termal yang tuntas didirikan pada pertengahan April 2026 tersebut dirancang khusus untuk mengintegrasikan jaringan restorasi hijau dengan kenyamanan area spot kuliner Floating Cafe (Cafe Apung). Langkah penguatan kapasitas destinasi ini merupakan realisasi taktis dari Program Keanekaragaman Hayati dan Pengembangan Desa Wisata yang didanai secara berkelanjutan oleh Corporate Social Responsibility (CSR) PT Smelting.
Kronologi pengerjaan infrastruktur kayu ini diawali dengan pelaksanaan koordinasi pemancangan dan penetapan draf desain arsitektur pada 7 April 2026. Guna memastikan standardisasi mutu bangunan di atas ekosistem intertidal, tim teknis menerapkan prosedur intervensi berupa peninjauan lapangan (field monitoring) sebanyak dua kali, yang dijadwalkan pada fase awal pengerjaan tanggal 9 April 2026 dan fase pertengahan pada 14 April 2026. Proses rekonstruksi struktural kayu tersebut memakan waktu total selama delapan hari kalender, terhitung sejak tanggal 9 hingga 16 April 2026. Seluruh rangkaian pembangunan ditutup dengan agenda supervisi (SPV) pengukuran luasan bangunan secara presisi pada 22 April 2026, yang mengonfirmasi dimensi akhir ruang gazebo sebesar meter.
Dalam fase pelaksanaan fisik, pengawas lapangan sempat menghadapi hambatan operasional berupa ketidaksesuaian lini masa pekerja akibat kendala mobilisasi geografis beberapa tenaga tukang bangunan yang berasal dari luar kota Gresik. Guna memitigasi risiko pembengkakan waktu (schedule overrun), diambil kebijakan taktis berupa pemberlakuan jam kerja lembur secara intensif pada hari-hari libur keagamaan dan akhir pekan. Strategi pemadatan jam kerja tersebut terbukti efektif mengembalikan ritme konstruksi ke dalam koridor target perencanaan semula tanpa mengurangi aspek keselamatan kerja di atas wilayah perairan muara. Sebagai rencana tindak lanjut (RTL) pasca-konstruksi utama, tim kerja menjadwalkan agenda pelapisan cat kayu eksterior (finishing paint) tahan korosi air laut serta pemasangan struktur pagar pelindung pada perimeter depan bangunan.
Kehadiran ruang rehat komunal yang representatif ini dinilai oleh kelompok usaha lokal dan mitra korporasi sebagai pemicu utama bagi peningkatan daya saing dan nilai tawar kawasan wisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism).
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Desa Pangkahkulon menyatakan bahwa selesainya pembangunan gazebo ini memberikan solusi konkret atas keluhan keterbatasan ruang rehat yang kerap disampaikan oleh para pelancong selama triwulan pertama operasional. "Sebelum adanya gazebo pelindung ini, banyak pengunjung terpaksa mengantre lama atau membatalkan pesanan makanan di Cafe Apung karena tidak mendapatkan tempat duduk yang teduh saat cuaca terik di tengah laut. Dengan ruang baru seluas delapan meter lebih ini, daya tampung konsumen otomatis meningkat dua kali lipat. Kami optimis omzet penjualan kuliner khas nelayan yang dikelola KUB akan tumbuh stabil seiring dengan kenyamanan wisatawan yang semakin terjaga," paparnya setelah peninjauan hasil supervisi pengukuran di lokasi.
Apresiasi senada diutarakan oleh perwakilan Manajemen CSR PT Smelting, yang menegaskan bahwa pemenuhan sarana fisik penunjang pariwisata ini berjalan selaras dengan target pencapaian indikator kinerja sosial perusahaan dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG). "PT Smelting berkomitmen memastikan bahwa setiap infrastruktur pariwisata yang kami danai di Pangkahkulon didasarkan pada analisis kebutuhan riil komunitas lokal. Ketahanan pengawas lapangan dan kelompok dalam menyiasati kendala tukang luar kota melalui metode lembur libur menunjukkan tingkat resiliensi tata kelola yang sangat matang. Kami akan terus mengawal jalannya fase penyelesaian akhir pengecatan dan pemagaran dalam bulan depan agar aset Taman Kehati ini siap beroperasi secara optimal dan akuntabel," pungkasnya secara tertulis dalam laporan evaluasi fisik triwulan program.